Selasa, 15 Mei 2012

PENDIDIKAN ISLAM PADA ZAMAN PENJAJAHAN BELANDA, JEPANG DAN KEMERDEKAAN INDONESIA PENDIDIKAN ISLAM PADA ZAMAN PENJAJAHAN BELANDA, JEPANG DAN KEMERDEKAAN INDONESIA


PENDIDIKAN ISLAM
PADA ZAMAN PENJAJAHAN BELANDA, JEPANG
DAN KEMERDEKAAN INDONESIA

A.           ZAMAN PENJAJAHAN BELANDA
Sejarah perkembangan Islam di Indonesia memberi gambaran kepada kita bahwa kontak pertama antara pengembangan agama Islam dan berbagai jenis kebudayaan dan masyarakat di Indonesia, menunjukkan adanya semacam akomodasi kultural. Di samping melalui pembenturan dalam dunia dagang, sekarang juga menunjukkan bahwa penyebaran Islam kadang-kadang terjadi pula dalam suatu relasi intelektual, ketika ilmu-ilmu dipertentangkan atau dipertemukan, ataupun ketika kepercayaan pada dunia lama mulai menurun.
Oleh karena itu, kedatangan kaum kolonial Belanda berhasil menancapkan kukunya di bumi Nusantara dengan misi gandanya, (Imperialisme dan Kristenisasi) sangat merusak dan menjungkirbalikkan tatanan yang sudah ada.
Memang diakui bahwa Belanda cukup banyak mewarnai perjalanan sejarah (Islam) di Indonesia. Cukup banyak peristiwa dan pengalaman yang dicatat Belanda sejak awal kedatangannya di Indonesia, baik sebagai pedagang perseorangan, ataupun ketika diorganisasikan dalam bentuk kongsi dagang yang bernama VOC, atau juga sebagai aparat pemerintah yang berkuasa dan menjajah. Oleh sebab itu, wajar bila kehadiran mereka selalu mendapat tantangan dan perlawanan dari penduduk pribumi, raja-raja dan tokoh-tokoh agama setempat. Mereka menyadari bahwa untuk mempertahankan kekuasaannya di Indonesia, mereka harus berusaha memahami dan mengerti seluk-beluk penduduk pribumi yang dikuasainya Mereka pun tahu bahwa penduduk yang dijajahnya mayoritas beragama Islam.
Apa yang mereka sebut pembaharuan pendidikan, tidak lain adalah Westernisasi dan Kristenisasi, yang kesemuanya dilakukan untuk kepentingan Barat dan Nasarani. Dua motif inilah yang mewarnai kebijaksanaan penjajahan Belanda di Indonesia yang berlangsung selama 3,5 abad.
K.H. Zainuddin Zuhri menggambarkan bahwa rakyat Indonesia yang mayoritas umat Islam tidak memandang orang-orang Barat tersebut melainkan sebagai penakluk dan penjajah. Dalam dada penjajah tersebut terdapat ajaran dari politikus curang dan licik Machiavelli, yang antara lain mengajarkan:
1.             Agama sangat diperlukan bagi pemerintah penjajah (kolonial);
2.             Agama tersebut dipakai untuk menjinakkan dan menaklukkan rakyat;
3.             Setiap aliran agama dianggap palsu oleh penduduk yang bersangkutan harus dimanfaatkan untuk memecahbelah dan mendorong mereka agar mencari bantuan kepada pemerintah;
4.             Janji dengan rakyat tak perlu ditepati jika merugikan;
5.             Tujuan dapat menghalalkan segala cara.
Demikianlah, Jan Pieter Zoon Coen (1587-1929) dengan meriah dan politik Machiavelli-nya menduduki Jakarta yang dulu bernama Batavia. Namun, orang-orang pribumi tidak tinggal diam. Meskipun Belanda baru mengepakkan sayapnya sebagai kolonial, mereka sudah ditantang dan dilawan oleh Sultan Agung Mataram yang dikenal dengan gelar Sultan Abdurrahman Khalifatullah Sayidin Panotogama.
1.             Pendidikan Islam Sebelum Tahun 1900
Sebelum tahun 1900, kita mengenal pendidikan Islam secara perseorangan, melalui rumah tangga dan surau/langgar atau masjid. Pendidikan secara perseorangan dan rumah tangga lebih mengutamakan pelajaran praktis, misalnya tentang ketuhanan, keimanan dan masalah-masalah yang berhubungan dengan ibadah. Belum ada pemisahan mata pelajaran tertentu dan pelajaran yang diberikan pun belum sistematis.
Pendidikan Islam pada masa ini bercirikan hal-hal sebagai berikut:
a)            Pelajaran diberikan satu demi satu;
b)            Pelajaran ilmu Sharaf didahulukan dari ilmu Nahwu;
c)            Buku pelajaran pada mulanya dikarang oleh ulama Indonesia dan diterjemahkan ke dalam bahasa daerah setempat;
d)            Kitab yang digunakan umumnya ditulis tangan;
e)            Pelajaran suatu ilmu hanya diajarkan dalam satu macam buku saja;
f)             Toko buku belum ada, yang ada hanyalah menyalin buku dengan tulis tangan;
g)            Karena terbatasnya bacaan, materi ilmu agama sangat sedikit;
h)            Belum lahir aliran baru dalam Islam. (M. Yunus, 1985)

2.             Pendidikan Islam Pada Masa Peralihan (1900-1908)
Pada masa peralihan ini telah banyak berdiri tempat pendidikan Islam terkenal di Sumatera, seperti Surau Parabek Bukit Tinggi (1908) yang didirikan oleh Syekh H. Ibrahim Parabek dan di Pulau Jawa seperti Pesantren Tebuireng, namun sistem madrasah belum dikenal.
Adapun pelajaran agama Islam pada masa peralihan ini bercirikan hal-hal sebagai berikut:
a)            Pelajaran untuk dua sampai enam ilmu dihimpun secara sekaligus;
b)            Pelajaran ilmu Nahwu atau disamakan dengan ilmu Sharaf;
c)            Semua buku pelajaran merupakan karangan ulama Islam kuno dan dalam bahasa Arab;
d)            Semua buku dicetak;
e)            Suatu ilmu diajarkan dari beberapa macam buku; rendah, menengah, dan tinggi;
f)             Telah ada toko buku yang memesan buku-buku dari Mesir atau Mekah;
g)            Ilmu agama telah berkembang luas berkat banyaknya buku bacaan;
h)            Aliran baru dalam Islam seperti yang dibawa oleh majalah Al-Manar di Mesir mulai lahir.
Pada waktu itu kebijakan pemerintah kolonial Belanda terhadap pendidikan Islam Indonesia sangat ketat. Di samping itu, juga pemerintah kolonial gencar mempropagandakan pendidikan yang mereka kelola, yaitu pendidikan yang membedakan antara golongan priyayi atau pejabat bahkan yang beragama Kristen.
3.             Pendidikan Islam Sesudah Tahun 1909
Gaung isu nasionalisme merambah kemana-mana, ini berkat tampilnya Budi Utomo pada tahun 1908, yang menyadarkan bangsa Indonesia, bahwa perjuangan bangsa Indonesia yang selama ini cuma mengandalkan kekuatan dan kedaerahan tanpa memperhatikan persatuan sulit untuk mencapai keberhasilan. Karena itulah, sejak tahun 1908 timbul kesadaran baru dari bangsa Indonesia untuk memperkuat persatuan.
Sistem madrasah baru dikenal pada permulaan abad ke 20. Sistem ini membawa pembaharuan, antara lain:
a)            Perubahan sistem pengajaran dari perseorangan atau Sorogan menjadi Klasikal;
b)            Pengajaran pengetahuan umum di samping pengetahuan agama dan bahasa Arab.
B.            ZAMAN PENJAJAHAN JEPANG
Jepang muncul sebagai Negara kuat di asia. Bangsa Jepang bercita-cita menjadi pemimpin Asia Timur Raya, dan hal ini sudah direncanakan Jepang sejak tahun 1940 untuk mendirikan kemakmuran bersama Asia Raya. Menurut rencana tersebut, Jepang ingin menjadi pusat suatu lingkungan yang berpengaruh atas daerah-daerah Mansyuria, Daratan Cina, Kepulauan Filipina, Indonesia, Malaysia, Thailand, Indo Cina dan Rusia.
1.             Tujuan Persekolahan Secara Umum
Pendidikan pada zaman Jepang disebut “Hakko Ichiu”, yakni mengajak bangsa Indonesia bekerja sama dalam rangka mencapai kemakmuran bersama Asia Raya. Oleh karena itu, setiap hari pelajar terutama pada pagi hari harus mengucapkan sumpah setia kepada Kaisar Jepang, lalu dilatih kemiliteran. Sistem persekolahan di zaman pendudukan Jepang banyak berbeda dengan penjajahan Belanda.
Sekolah-sekolah yang ada pada zaman Belanda diganti dengan sistem Jepang. Segala upaya ditujukan untuk kepentingan perang. Murid-murid hanya mendapat pengetahuan yang sedikit sekali. Hampir sepanjang hari, mereka mengikuti kegiatan latihan perang atau bekerja.
Kegiatan-kegiatan sekolah antara lain:
1)            Mengumpulkan batu, pasir untuk kepentingan perang;
2)            Membersihkan bengkel-bengkel, sarana-sarana militer;
3)            Menanam ubi-ubian, sayur-sayuran di pekarangan sekolah untuk persediaan makanan;
4)            Menanam pohon jarak untuk bahan pelumas.
Kendati demikian, ada beberapa hal yang perlu dicatat pada zaman Jepang ini, yaitu terjadinya perubahan yang cukup mendasar di bidang pendidikan, dan hal ini penting sekali artinya bagi bangsa Indonesia, diantaranya ialah:
1)            Dihapuskannya dualisme pengajaran; berbagai macam jenis sekolah rendah, yang dahulunya diselenggarakan pada zaman Belanda, dihapuskan sama sekali. Habislah riwayat susunan pengajaran Belanda yang dualistis itu, yang membedakan dua jenis pengjaran, yakni pengajaran Barat dan pengajaran Bumi Putra.
2)            Pemakaian bahasa Indonesia; pemakaian bahasa Indonesia baik sebagai bahasa resmi maupun sebagai bahasa pengantar pada tiap-tiap jenis sekolah, telah dilaksanakan.

2.             Sikap Jepang Terhadap Pendidikan Islam
Sikap penjajah Jepang terhadap pendidikan Islam ternyata lebih lunak sehingga ruang gerak pendidikan Islam lebih bebas ketimbang pada zaman pemerintahan kolonial Belanda. Terlebih-lebih pada tahap permulaan, pemerintah Jepang menampakkan diri seakan-akan membela kepentingan Islam. Untuk mendekati umat Islam, mereka menempuh beberapa kebijaksanaan berikut.
a)            Kantor Urusan Agama (KUA)
b)            Pembentukkan Masyumi
c)            Terbentuknya Hizbullah
Namun dibalik kekejaman Jepang terdapat pula hal-hal yang sangat menguntungkan. Drs. Ary H. Gunawan merinci keuntungan-keuntungan pada zaman Jepang, khususnya di bidang pendidikan.
a)            Bahasa Indonesia hidup dan berkembang secara luas di seluruh Indonesia, baik sebagai bahasa pergaulan, pengantar maupun sebagai bahasa ilmiah. Istilah-istilah baru diciptakan dan diadopsi dari berbagai bahasa yang mantap untuk berbagai keperluan, termasuk ejaannya.
b)            Buku-buku dalam bahasa asing yang diperlukan diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia, dengan mengabaikan hak cipta internasional karena dalam suasana perang. Bahasa asing yang dibenarkan dipergunakan di Indonesia hanyalah bahasa Jepang.
c)            Kreativitas guru-guru semakin berkembang dalam memenuhi kekurangan buku pelajaran dengan menyadur atau mengarang sendiri, termasuk kreativitas untuk menciptakan alat peraga dan model dengan bahan dan alat yang tersedia.
d)            Seni bela diri dan latihan perang-perangan sebagai kegiatan kurikuler di sekolah telah membangkitkan keberanian pada para pemuda yang ternyata sangat berguna dalam perang kemerdekaan yang terjadi demikian. Termasuk juga Seinendan, Keibodan, Heiho dan Peta, yang telah terlatih mempergunakan senjata api.
e)            Diskriminasi menurut golongan penduduk, keturunan dan agama ditiadakan sehingga semua lapisan masyarakat mendapat kesempatan yang sama dalam bidang pendidikan. Sekolah-sekolah diseragamkan dan sekolah-sekolah swasta dinegerikan serta berkembang di bawah pengaturan kantor pengajaran “Bunkyo Kyoku”.
f)             Karena pengaruh indoktrinasi yang ketat untuk menjepangkan rakyat Indonesia, perasaan rindu pada kebudayaan sendiri dan kemerdekaan nasional berkembang dan bergejolak secara luar biasa.
g)            Bangsa Indonesia dididik dan dilatih untuk memegang jabatan walaupun di bawah pengawasan orang-orang Jepang. (Gunawan, 1986: 29-30)
3.             Pertumbuhan dan Perkembangan Madrasah
Pada masa pendudukan Jepang, ada satu keistimewaan dalam dunia pendidikan. Sekolah-sekolah telah diseragamkan dan dinegerikan. Adapun sekolah-sekolah swasta, seperti Muhammadiyah, Taman Siswa dan lain-lain diizinkan terus berkembang, tetapi masih diatur dan diselenggarakan oleh pendudukan Jepang.
A.           PENDIDIKAN ISLAM ZAMAN KEMERDEKAAN

1.             Pendidikan Islam Zaman Kemerdekaan I (1945-1965)
Setelah Indonesia merdeka, pengelenggaraan pendidikan agama mendapat perhatian serius dari pemerintah, baik di sekolah negeri maupun swasta. Usaha untuk itu dimulai dengan memberikan bantuan terhadap lembaga tersebut sebagaimana yang dianjurkan oleh Badan Pekerja Komite Nasional Pusat (BPKNP) tanggal 27 Desember 1945. Badan ini menyebutkan bahwa madrasah dan pesantren yang pada hakikatnya adalah satu alat dan sumber pendidikan dan pencerdasan rakyat jelata yang sudah berurat berakar dalam masyarakat Indonesia umumnya, hendaklah mendapat perhatian dan bantuan material dari pemerintah.
2.             Pengintegrasian Pelajaran Agama dan Pelajaran Umum.
Ada dua cara yang memungkinkan untuk menghubungkan mata pelajaran agama dengan mata pelajaran umum, yaitu:
1)            Cara Okasional; yaitu dengan cara bagian dari satu pelajaran dihubungkan dengan bagian dan pelajaran lain bila ada kesempatan yang baik. Hubungan secara Okasional ini biasanya disebut juga Korelasi. Hal ini sejalan dengan prinsip kurikulum Korelasi, misalnya pada waktu membicarakan pelajaran Fiqih tentang hukum makanan dan minuman, guru dapat menghubungkannya dengan pendidikan kesehatan.
2)            Cara Sistematis; yaitu dengan cara bahan-bahan pelajaran itu dihubungkan lebih dahulu menurut rencana tertentu sehingga bahan-bahan itu seakan-akan merupakan satu kesatuan yang terpadu. Hal itu disebut konsentrasi sistematis sebagian dan konsentrasi sistematis total.
Pengintegrasian pendidikan agama dan pendidikan umum ke dalam sistem pendidikan nasional berawal dengan adanya SKB, dan sudah dilaksanakan sebelum kelahiran UU No. 2 tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional.
Demikianlah mengenai pengintegrasian pendidikan agama ke pendidikan umum yang tujuannya memantapkan sekolah atau madrasah yang dilaksanakan Departemen Agama.

˜












PENUTUP

Pendidikan Islam pada zaman penjajahan Belanda. Kebijakan pemerintah kolonial Belanda terhadap pendidikan Islam mendapat pengawasan yang sangat ketat. Dan pemerintah kolonial gencar mempropagandakan pendidikan yang mereka kelola, yaitu pendidikan yang membedakan antara golongan priyayi atau pejabat bahkan yang beragama Kristen. 
Pendidikan Islam pada zaman penjajahan Jepang. Sikap penjajah Jepang terhadap pendidikan Islam ternyata lebih lunak sehingga ruang gerak pendidikan Islam lebih bebas ketimbang pada zaman pemerintah kolonial Belanda. Terlebih-lebih pada tahap permulaan, pemerintah Jepang menampakkan diri seakan-akan membela kepentingan Islam. Untuk mendekati umat Islam, mereka menempuh beberapa kebijaksanaan mendirikan Kantor Urusan Agama (KUA), pembentukan Masyumi dan Hizbullah.
Pendidikan Islam pada zaman Kemerdekaan. Penyelenggaraan pendidikan agama mendapat perhatian serius dari pemerintah, baik di sekolah negeri maupun swasta. Dan diterapkannya pengintegrasian (pembauran) pendidikan agama dan pendidikan umum.

J?Jœ



DAFTAR PUSTAKA

Dra. Hj. Enung K. Rukiati, Dra. Fenti Hikmawati, Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia, Pustaka Setia, Bandung: 2006.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar